ORIENTASI PESERTA DIDIK
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Semua
peserta didik yang telah mendaftar ulang, selanjutnya memasuki masa orientasi
peserta didik di sekolah. Orientasi dilakukan mulai hari-hari pertama masuk
sekolah. Menurut Imron (2004:50) menjelaskan “orientasi adalah perkenalan”.
Mengapa dilakukan kegiatan orientasi peserta didik? Agar setiap peserta didik
mengenal dan siap menghadapi kondisi dan situasi sekolah yang baru.
Bagaimanapun juga, kondisi dan situasi sekolah yang baru, akan berbeda dengan
kondisi dan situasi sekolah yang lama.
Orientasi
peserta didik baru penting dilaksanakan karena merupakan kegiatan yang sangat
strategis dalam pembinaan kesiswaan yang bertujuan mengantarkan siswa untuk
beradaptasi di sekolah. Pada saat orientasi peserta didik baru, peserta didik
belajar mengenal semua unsur sekolah, guru, TU, OSIS, lingkungan sekolah,
teman, budaya belajar, dan tata tertib sekolah. Saat itu, peserta didik juga
dibekali materi kepribadian, keterampilan, dan ketangkasan. Jadi, kegiatan
orientasi peserta didik baru diharapkan dapat membantu peserta didik dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah secara cepat.
Perlu
diperhatikan, orientasi peserta didik baru bukan perpeloncoan peserta didik
baru. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas pengaturan orientasi peserta
didik baru, meliputi alasan dan batasan orientasi peserta didik baru, tujuan
orientasi peserta didik baru, fungsi orientasi peserta didik baru, serta
pelaksanakan pada masa orientasi peserta didik baru.
Kegiatan ini dapat memberikan kesan yang positif dan
menyenangkan kepada peserta
didik baru tentang lingkungan sekolah
yang baru. Mereka diharapkan mengawali kegiatan pendidikan dengan situasi yang
menggembirakan sambil mengenal dan mempelajari sesuatu yang baru, baik yang
berkaitan dengan lingkungan fisik, lingkungan sosial mulai dari visi, misi
sampai pada aturan-aturan norma sekolah.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang yang
telah dikemukakan diatas, masalah yang akan dibahas adalah sebagai
berikut.
1. Apa pengertian orientasi peserta
didik?
2.
Apa
alasan dilaksanakannya peserta didik baru dan bagaimana batasannya?
3.
Apa
saja tujuan dan fungsi pelaksanaan peserta didik baru?
4.
Bagaimana
pelaksanaan masa orientasi peserta didik baru?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, terdapat tujuan sebagai berikut.
1. Memahami pengertian orientasi
peserta didik?
2.
Mengetahui
alasan dilaksanakannya orientasi peserta didik baru dan bagaimana batasannya
3.
Mengetahui
tujuan dan fungsi pelaksanaan orientasi peserta didik baru
4.
Mengetahui
pelaksanaan masa orientasi peserta didik baru
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Orientasi Peserta Didik Baru
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) orientasi
adalah peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dan sebagainya) yang
tepat dan benar.
Pengertian peserta didik sendiri berdasarkan ketentuan umum
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (dalam
Tim Dosen AP, 2009) adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
potensi yang melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan
jenis pendidikan tertentu.
Nasihin dan Sururi (2009) mendefinisikan bahwa peserta didik
merupakan orang yang menempuh ilmu sesuai dengan cita-cita dan harapan masa
depan.
Dari pengertian-pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa
peserta didik adalah orang/individu yang berusaha mengembangkan bakat, minat
dan potensi yang ada dalam diri agar tumbuh dan berkembang dengan baik serta
mempunyai kepuasan dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh pendidiknya.
Jadi, orientasi peserta didik baru (siswa baru) adalah
kegiatan penerimaan peserta didik baru dengan mengenalkan situasi dan kondisi
lembaga pendidikan (sekolah) tempat peserta didik tersebut menempuh pendidikan.
B.
Alasan dan batasan Orientasi Peserta
Didik
Lingkungan sekolah peserta didik yang lama telah
ditinggalkan dan mereka berganti dengan lingkungan sekolah yang baru dengan
penghuni dan budaya baru. Oleh karena itu, peserta didik perlu orientasi. Dengan
orientasi tersebut, peserta didik akan siap menghadapi lingkungan dan budaya
baru di sekolah yang mungkin berbeda jauh dengan sebelumnya.
Kian tinggi jenjang lembaga pendidikan, kian berat tuntutan
yang harus dipenuhi oleh peserta didik. Daya saing lingkungan baru tersebut
relatif lebih ketat dibandingkan dengan lingkungan sebelumnya. Orientasi peserta
didik baru diharapkan dapat mengantarkan peserta didik pada suasana baru yang
berbeda dengan sebelumnya. Dengan demikian, peserta didik akan menyadari bahwa
lingkungan baru di mana ia akan memasukinya, membutuhkan pikiran, tenaga, dan
waktu yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan lingkungan sekolah
sebelumnya.
Menurut Ali Imron (2004) yang dimaksud dengan orientasi
adalah perkenalan. Perkenalan disini ini meliputi lingkungan fisik sekolah dan
lingkungan sosial sekolah. Lingkungan fisik sekolah meliputi prasarana dan
sarana sekolah, seperti jalan menuju sekolah, halaman sekolah, tempat bermain
di sekolah, lapangan olahraga, gedung dan perlengkapan sekolah, serta
fasilitas-fasilitas lain yang disediakan di sekolah. Sedangkan lingkungan
sosial sekolah meliputi kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan selain guru,
teman sebaya seangkatan, dan peserta didik senior di sekolah.
C. Tujuan dan Fungsi Pelaksanaan Orientasi Peserta Didik Baru
Perlu
diperhatikan, tujuan orientasi peserta didik baru bukan ajang perpeloncoan atau
sejenisnya, suasana menegangkan,
kekerasan ataupun ajang balas dendam dari senior terhadap peserta didik
baru. Sebagai contoh orientasi menjadi ajang perploncoan adalah peserta harus
mengenakan atribut yang aneh-aneh dan tidak sesuai dengan dunia pendidikan. dan pemberian hukuman atau perlakuan yang mengarah
pada penganiayaan, kekerasan atau balas.
Pada dasarnya boleh mengenakan atribut, namun harus sesuai dengan dunia
pendidikan.
Maka ada beberapa tujuan pelaksanaan orientasi
peserta didik yang harus dipahami diantaranya: 1) agar peserta didik mengenal lebih
dekat mengenai diri mereka sendiri di tengah-tengah lingkungan barunya, 2)
agar peserta didik mengenal lingkungan
sekolah, baik lingkungan fisiknya maupun lingkungan sosialnya, 3) pengenalan
lingkungan sekolah sangat penting bagi peserta didik dalam hubungannya dengan: a)
Pemanfaatan semaksimal mungkin layanan yang diberikan oleh sekolah, b) Sosialisasi
diri dan pengembangan diri secara optimal, c) Menyiapkan siswa secara fisik,
mental, dan emosional agar siap menghadapi
lingkungan baru sekolah.
Adapun
fungsi pelaksanaan orientasi peserta didik baru diantaranya: 1) Bagi peserta didik
sendiri, orientasi berfungsi sebagai wahana untuk menyatakan dirinya dalam
konteks keseluruhan lingkungan sosialnya dan wahana untuk mengenal bagaimana
lingkungan barunya serta siapa dan apa saja yang ada di sana sehingga dapat
dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan sikap, 2) bagi personalia sekolah
dan lembaga kependidikan, dengan mengetahui siapa peserta didik barunya, akan
dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam memberikan layanan-layanan yang
mereka butuhkan, 3) Bagi para peserta didik senior, dengan adanya orientasi,
akan mengetahui lebih dalam mengenai peserta didik penerusnya di sekolah
tersebut. Hal ini sangat penting terutama berkaitan dengan estafet kepemimpinan
organisasi peserta didik di sekolah tersebut.
D. Pekan Orientasi Peserta Didik
Masa orientasi
peserta didik adalah kelanjutan dari orientasi hari-hari pertama masuk sekolah.
Jika pada hari-hari pertama masuk sekolah peserta didik diperkenalkan dengan
lingkungan fisik dan lingkungan sosial sekolah secara global, pada masa
orientasi peserta didik ini mereka diperkenalkan secara rinci.
Lingkungan sekolah yang diperkenalkan secara rinci tersebut adalah peraturan dan tata tertib sekolah, guru dan personalia sekolah, perpustakaan sekolah, laboratorium sekolah, kafetaria sekolah, bimbingan dan konseling, layanan kesehatan sekolah, layanan asrama sekolah, orientasi program studi, cara belajar yang efektif dan efisien, dan organisasi peserta didik.
1. Peraturan dan Tata Tertib Sekolah
Lingkungan sekolah yang diperkenalkan secara rinci tersebut adalah peraturan dan tata tertib sekolah, guru dan personalia sekolah, perpustakaan sekolah, laboratorium sekolah, kafetaria sekolah, bimbingan dan konseling, layanan kesehatan sekolah, layanan asrama sekolah, orientasi program studi, cara belajar yang efektif dan efisien, dan organisasi peserta didik.
1. Peraturan dan Tata Tertib Sekolah
Para peserta didik baru perlu diperkenalkan dengan tata tertib
sekolah karena tata tertib sekolah mengatur perilaku peserta didik di sekolah.
Tata tertib sekolah yang harus dipatuhi oleh siswa di antaranya: a) peserta
didik wajib berpakaian sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh sekolah, b)
peserta didik wajib memelihara dan menjaga kebersihan dan ketertiban, serta
menjunjung tinggi nama baik sekolah, c) peserta didik harus hadir di sekolah
paling lambat lima menit sebelum pelajaran dimulai d) peserta didik harus siap
menerima pelajaran yang telah ditetapkan sekolah, e) selama jam sekolah
berlangsung, siswa dilarang meninggalkan sekolah tanpa izin kepala sekolah, f)
setiap peserta didik yang tidak dapat mengikuti pelajaran harus menunjukkan
keterangan yang sah, dan g) pelanggaran atas tata tertib sekolah bisa menjadi
penyebab dikeluarkannya peserta didik dari sekolah setelah mendapat peringatan
lisan, tertulis, dan skorsing.
2.
Guru dan Personalia Sekolah
Para peserta didik harus diperkenalkan kepada guru-guru dan
personalia sekolah secara detail. Perkenalan ini meliputi tempat dan tanggal
lahir, status, jumlah anak, alamat, latar belakang pendidikan, bidang keahlian,
pengalaman, prestasi-prestasi yang pernah dicapai, dan karya-karyanya.
Perkenalan secara detail itu penting agar siswa mengetahui lebih banyak tentang gurunya dan personalia sekolah. peserta didik akan mengetahui kepada guru mana dia harus menanyakan mata pelajaran yang tidak diketahuinya. Dia juga mengetahui kepada siapa mengadukan masalah yang dialaminya.
Orientasi terhadap guru dan personalia sekolah ini juga menyangkut struktur mereka dalam organisasi sekolah serta deskripsi tugas dan tanggung jawab masing-masing. Pemahaman mengenai struktur organisasi sekolah ini akan mengantarkan peserta didik pada pemahaman mengenai hubungan organisasional di sekolah. Dengan demikian, peserta didik dapat memanfaatkan layanan-layanan pendidikan yang disediakan sekolah.
3. Perpustakaan Sekolah
Perkenalan secara detail itu penting agar siswa mengetahui lebih banyak tentang gurunya dan personalia sekolah. peserta didik akan mengetahui kepada guru mana dia harus menanyakan mata pelajaran yang tidak diketahuinya. Dia juga mengetahui kepada siapa mengadukan masalah yang dialaminya.
Orientasi terhadap guru dan personalia sekolah ini juga menyangkut struktur mereka dalam organisasi sekolah serta deskripsi tugas dan tanggung jawab masing-masing. Pemahaman mengenai struktur organisasi sekolah ini akan mengantarkan peserta didik pada pemahaman mengenai hubungan organisasional di sekolah. Dengan demikian, peserta didik dapat memanfaatkan layanan-layanan pendidikan yang disediakan sekolah.
3. Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan sekolah harus diperkenalkan kepada peserta
didik menyangkut siapa yang mengelola dan mengepalai, serta apa saja tugas dan
tanggung jawab mereka. Peserta didik perlu diberi tahu berapa jumlah koleksi
bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan sekolah, macam-macam dan jenis koleksi
yang dimiliki perpustakaan, serta dari mana koleksi yang dimiliki selama ini.
Peserta didik juga diberi tahu mengenai layanan yang diberikan oleh
perpustakaan, misalnya layanan baca, layanan peminjaman, layanan pemesanan, dan
layanan pengembalian. Agar peserta didik dapat menggunakan perpustakaan
semaksimal mungkin tanpa mengganggu penyelenggaraannya, siswa perlu diberi
informasi mengenai persyaratan menjadi anggota perpustakaan, tata cara
peminjaman buku, pemesanan buku, pengembalian buku, penjelasan tentang tata
tertib berkunjung, membaca buku di ruangan, serta sanksi atas pelanggarannya.
4. Laboratorium Sekolah
4. Laboratorium Sekolah
Layanan laboratorium perlu diperkenalkan kepada peserta
didik baru. Peserta didik terlebih dahulu diperkenalkan kepada para petugas
laboratorium serta tugas dan tanggung jawabnya. Peserta didik juga diberi informasi
mengenai macam-macam laboratorium yang dimiliki sekolah serta sarana prasarana,
perlengkapan, dan fasilitas yang tersedia. Tata cara menggunakan masing-masing
laboratorium, petunjuk teknisnya, serta bahaya-bahaya dari sebagian peralatan
yang ada juga perlu disampaikan kepada peserta didik baru.
5.
Bengkel Sekolah
Bengkel yang dipunyai
oleh sekolah perlu diperkenalkan kepada peserta didik baru, tujuan dan fungsi
diadakannya bengkel tersebut harus dijelaskan serta tata cara pemanfaatannya.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Peserta
didik yang telah mendaftar ulang, maka selanjutnya mereka memasuki masa orientasi peserta didik di
sekolah. Alasan diadakannya orientasi peserta didik adalah agar peserta didik
siap menghadapi kondisi dan situasi sekolah yang bari. Bagaimanapun juga,
kondisi dan situasi sekolah yang baru, akan berbeda dengan kondisi situasi
sekolah yang lama.
Orientasi
peserta didik baru dilaksanakan pada awal tahun ajaran sebelum peserta didik
menerima pelajaran. Acara orientasi biasanya diisi dengan kegiatan yaitu, 1) perkenalan
dengan guru dan staf sekolah, 2) perkenalan dengan peserta didik lama, 3) perkenalan
dengan pengurus OSIS, 4) penjelasan tentang tata tertib sekolah, 5) penjelasan
dan peninjauan fasilitas yang ada di sekolah.
Kegiatan
orientasi peserta didik baru dilaksanakan agar peserta didik dapat menyesuaikan
diri dengan lingkungan sekolah barunya secara cepat.
B. Saran
Hendaknya
orientasi benar-benar menjadi masa pembentukan karakter individu yang sejalan
dengan visi dan misi sekolah. Ini bisa dilakukan mulai dengan latihan dan
penanaman sikap disiplin diri, tanggung jawab, mengenali potensi diri dan
menemukan motivasi diri dalam belajar, melatih kepekaan agama dan sosial. Jenis
kegiatannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Panitia dan pembina
orientasi siswa baru dilarang melakukan tindakan yang bersifat perpeloncoan,
baik secara fisik maupun psikis. Perpeloncoan fisik antara lain pemberian
hukuman atau perlakuan yang mengarah pada penganiayaan, sedangkan perpeloncoan
psikis antara lain tindakan atau perintah yang dapat mempermalukan atau
mempersulit peserta orientasi siswa baru. Misalnya, peserta orientasi siswa
baru harus mengenakan atribut tertentu, membawa benda tertentu, atau mencari
hal tertentu yang tidak mendidik.
DAFTAR
RUJUKAN
Fadoli,
A. 2011. Pengertian Peserta Didik dan
Kebutuhan Peserta Didik,
(Online),(http://blog.elearning.unesa.ac.id/ahmad-fadoli/pengrtian- peserta-didik- dan-kebutuhan-peserta-didik),
diakses 2 November 2012.
Imron, A. 2001. Manajemen Peserta Didik. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Imron, A. 2004. Manajemen Peserta Didik. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Tim Dosen AP. 1989. Administrasi Pendidikan. Malang: IKIP
Malang.
Tim Dosen AP. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Surabaya:
CV Pustaka Agung Harapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar