Selasa, 11 November 2014

GAYA KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL DAN TRANSFORMASIONAL

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Gaya Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan transaksional menurut Komariah dan Triatna Bass (dalam Masaong & Tilome, 2011) adalah kepemimpinan yang menekankan pada tugas yang diemban bawahan. Pemimpin adalah seorang yang mendesain pekerjaan beserta mekanismenya, dan staf adalah seseorang yang melaksanakan tugas sesuai dengan kemampuan dan keahlian. Kepemimpinan transaksional lebih difokuskan pada perannya sebagai manajer karena di sana sangat terlibat dalam aspek-aspek prosedural manajerial yang metodologis dan fisik. Sistem kerja yang jelas merujuk kepada tugas yang diemban dan imbalan yang diterima sesuai dengan derajat pengorbanan dalam pekerjaan maka kepemimpinan transaksional yang sesuai diterapkan di tengah-tengah staf yang belum matang, dan menekankan pada pelaksanaan tugas untuk mendapatkan insentif bukan pada aktualisasi diri. Oleh karena itu, kepemimpinan transaksional dihadapkan pada orang-orang yang ingin memenuhi kebutuhan hidupnya dari segi sandang, pangan, dan papan.
Kepemimpinan transaksional tidak mengembangkan pola hubungan laisddez fair atau membiarkan personel menentukan sendiri pekerjaanya karena dikhawatirkan dengan keadaan personel yang perlu pembinaan, pola ini dapat menyebabkan mereka menjadi pemalas dan tidak jelas apa yang dikerjakannya. Pola hubungan yang dikembangkan kepemimpinan transaksional berdasarkan suatu sistem timbal balik (transaksi) yang  sangat menguntungkan (mutual system of reinforcement), yaitu pemimpin memahami kebutuhan dasar para pengikutnya dan pemimpin menemukan penyelesaian atas cara kerja dari para pengikutnya tersebut.
Pemimpin transaksional merancang pekerjaan sedemikian rupa yang disesuikan jenis dan jenjang jabatanya dan melakukan interaksi atau hubungan mutualistis. Hoover & leitwood  Bass (dalam Masaong & Tilome, 2011:177) menjelaskannya secara skemastis model kepemimpinan transaksional sebagaimana ditunjukkan melalui gambar A.1.


Pemimpin mengidentifikasi apa yang mesti dikerjakan untuk mencapai hasil yang diinginkan
Pemimpin memperjelas peran bawahannya
Bawahan merasa mampu memenuhi tuntutan atas peranannya tersebut
Bawahan menganggap imbalan itu sepadan dengan pencapaian hasil
Bawahan termotivasi untuk meraih hasil yang diinginkan tersebut
Pemimpin memeperjelas bagaimana kebutuhan bawahan dipenuhi, sebagai  imbalan atas apa yang dikerjakan
Pemimpin mengidentifikasi apa yang dibutuhkan oleh bawahannya
 




























Gambar A.1
Sumber: (Masaong & Tilome, 2011)

Gambar tersebut menunjukkan bahwa bawahan dipersepsi sebagai manusia X dalam teori X dan Y McGroger , yaitu manusia yang berupaya menghindari pekerjaan apabila ada kesempatan sehingga apabila dibiarkan mereka merasa senang dengan tanpa tanggung jawab. Pemimpin dalam praktik operasionalnya harus senantiasa mengontrol, mengarahkan dan jika perlu memberikan ancaman dalam upaya untuk memaksa individu menjadi produktif. Untuk melaksanakan peran kepemimpinannya, para pemimpin transaksional percaya bahwa orang cenderung lebih senang diarahkan, menjadi pekerja yang ditentukan prosedurnya dan pemecahan masalahnya daripada memikul sendiri tanggung jawab atas segala tindakan dan keputusan yang diambil. Oleh karena itu, para bawahan pada iklim transaksi tidak cocok diserahi tanggung jawab merancang pekerjaan secara inisiatif atau pekerjaan yang menuntut prakarsa.
Kepemimpinan transaksional juga dipandang sebagai contingent reinforcement atau dorongan kontingen dalam bentuk reward dan punishment yang telah disepakati bersama dalam kontrak kerja, yaitu manakala para staf menunjukkan keberhasilan atau kemajuan dalam pencapaian sasaran target yang diharapkan, mereka mendapatkan kontingen positif berupa imbalan. Namun, apabila staf menunjukkan kinerja yang sebaliknya, yaitu kegagalan dan berbagai kesalahan, maka dorongan kontingen negatif atau aversif dapat dikenakan berupa hukuman sesuai yang telah disepakati.
Pemimpin bercirikan transaksi, jarang membagi pengetahuannya kepada staf karena menganggap pengetahuan tersebut dapat dijadikan alat koreksi atau menjadi pengkritik moral yang kuat bagi perbaikan iklim kerja yang terlalu berorientasi tugas dan sedikit mengabaikan aspek kepribadian manusia.

B.       Gaya Kepemimpinan Transformasional
Latar belakang adanya gaya kepemimpinan transformasional yaitu era saat ini yang mana manusia dapat mengkritik dan meminta yang layak dari apa yang diberikannya secara kemanusiaan. Kepemimpinan transformasional tidak saja didasarkan pada kebutuhan akan penghargaan diri tetapi menumbuhkan kesadaran pemimpin untuk berbuat yang terbaik sesuai dengan kajian perkembangan manajemen dan kepemimpinan yang memandang manusia, kinerja, dan pertumbuhan organisasi adalah sisi yang saling berpengaruh. Teori tentang kepemimpinan transformasional atau inspirasional didasarkan pada ide Burns. Menurut Burns (dalam Muin, 2010:46) “kepemimpinan transformasional sebagai suatu proses yang pada dasarnya para pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan motivasi lebih tinggi”. Istilah transformasional berasal dari kata to transform, yang artinya mentransformasikan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda. Jika disesuaikan dengan lingkup pendidikan maka seorang kepala sekolah disebut menerapkan kaidah kepemimpinan transformasional jika kepala sekolah tersebut mampu mengubah energi sumber daya, baik manusia, instrumen, maupun situasi untuk mencapai tujuan reformasi sekolah. Pada organisasi sekolah, yang dimaksud dengan sumber-sumber daya manusia dapat berupa pimpinan, staf, bawahan, tenaga ahli, guru, dosen, dan lain-lain.
Seorang pemimpin dengan gaya transformasional merupakan pemimpin yang memiliki wawasan jauh ke depan dan senantiasa berupaya untuk memperbaiki dan mengembangkan organisasi, bukan hanya untuk saat ini namun sampai masa yang akan datang seperti pada gambar B.1. Berdasarkan hal ini pulalah pemimpin dengan gaya transformasional juga dikatakan sebagai pemimpin yang visioner. Menurut Covey dan Peters (dalam Muin, 2010:47), seorang pemimpin transformasional memiliki visi yang jelas, memiliki gambaran historis tentang bagaimana organisasi di masa depan ketika semua tujuan dan sasarannya telah tercapai. Jadi, dapat dikatakan bahwa pemimpin transformasional adalah pemimpin yang mendasarkan dirinya pada cita-cita di masa depan, terlepas apakah visinya tersebut diakui sebagai visi yang hebat dan mendasar. Seorang pemimpin transformasional memandang nilai-nilai organisasi sebagai nilai-nilai luhur yang perlu dirancang dan ditetapkan oleh seluruh staf sehingga para staf mempunyai rasa memiliki dan komitmen dalam pelaksanaannya. Nilai-nilai dari yang terpenting dan dijunjung tinggi pemimpin adalah segala-galanya dan dapat dijadikan rujukan utnuk dijadikan nilai-nilai dasar organisasi (basic values) yang dijunjung oleh seluruh staf.
1.        Tiga Komponen Kepemimpinan Transformasional
Menurut Bass & Avolio (dalam Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, 2009: 149) terdapat tiga komponen dalam kepemimpinan transformasional, diantaranya:
a)      Karisma. Karisma didefinisikan sebagai sebuah proses yang padanya seorang pemimpin mempengaruhi pengikutnya dengan menimbulkan emosi-emosi yang kuat dan identifikasi dengan pememimpin tersebut.
b)      Stimulasi intelektual. Yaitu sebagai sebuah proses yang apdanya seorang pemimpin meningkatkan kesadaran para pengikutnya terhadap masalah-masalah dan mempengaruhi para pengikutnya untuk memandang masalah-masalah tersebut dari sebuah prespektif yang baru.
c)      Perhatian yang diindifidualisasi. Seperti memberikan dukungan, membesarkan hati, dan memberi pengalaman-pengalaman tentang pengembangan para pengikut.
2.        Cara Mengubah dan Memotivasi Para Anggota Menurut Gaya Kepemimpinan Transformasional
Menurut Bass (dalam Masaong & Tilome, 2011:177), pemimpin mengubah dan memotivasi para anggota atau staftnya dengan beberapa cara, antara lain: (a) membuat staf lebih menyadari pentingnya hasil tugas, (b) membujuk staf untuk mementingkan kepentingan organisasi dibandingkan dengan kepentingan pribadi, dan (c) mengaktifkan kebutuhan staf yang lebih tinggi.
3.        Empat Dimensi dalam Kepemimpinan Transformasional
Bass dan Viola (dalam Muin, 2010:49) mengemukakan 4 dimensi dalam kepemimpinan transformasional dengan konsep “4I” yang artinya:
1.      “I” pertama yaitu idealiced influence, yaitu perilaku yang menghasilkan rasa hormat (respect) dan rasa percaya diri (trust) dari orang yang dipimpinnya. Idealiced influence mengandung makna saling berbagi resiko melalui pertimbangan kebutuhan staf di atas kebutuhan pribadi dan perilaku moral secara etis.
2.      “I” kedua yaitu inspirational motivation, yaitu perilaku yang menyediakan tantangan bagi pekerjaan yang dilakukan staf dan memperhatikan makna pekerjaan bagi staf. Pemimpin menunjukkan atau mendemonstrasikan komitmen terhadap sasaran organisasi melalui perilaku yang dapat diobservasi staf. Pemimpin adalah seorang motivator yang bersemangat untuk terus membangkitkan antusiasme dan optimisme staf.
3.      “I” ketiga yaitu intellectual stimulation, yaitu pemimpin yang mempraktikkan berbagai inovasi. Pemimpin senantiasa menggali ide-ide baru dan solusi yang kreatif dari pada staf dan tidak lupa selalu mendorong staf mempelajari dan mempraktikkan pendekatan baru dalam melakukan pekerjaan.
4.      “I” keempat yaitu individualized consideration, yaitu pemimpin yang merefleksikan dirinya sebagai seorang yang penuh perhatian dalam mendengarkan dan menindaklanjuti keluhan, ide, harapan-harapan, dan segala masukan yang diberikan staf.
Kepemimpinan transformasional dapat dipandang secara makro dan mikro. Secara mikro, kepemimpinan transformasional merupakan proses mempengaruhi antar individu, dan secara makro merupakan proses memobilitas kekuatan untuk mengubah sistem sosial dan mereformasi kelembagaan.
4.        Implementasi Kepemimpinan Transformasional dalam Pendidikan
Implementasi model kepemimpinan transformasional dalam bidang pendidikan memang perlu diterapkan seperti kepala sekolah, kepala dinas, dirjen, kepala departemen, dan lain-lain. Model kepemimpinan ini memang perlu diterapkan sebagai salah satu solusi kepemimpinan terutama dalam bidang pendidikan. Adapun alasan-alasan mengapa perlu diterapkan model kepemimpinan transformasional didasarkan pendapat Olga Epitropika (dalam Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, 2009:157), yaitu:
a)      Secara signifikan meningkatkan kinerja organisasi;
b)      Secara positif dihubungkan dengan orientasi pemasaran jangkan panjang dan kepuasan pelanggan;
c)      Membangkitkan komtimen yang lebih tinggi para anggotanya terhadap keseharian organisasi;
d)     Meningkatkan kepuasan pekerja melalui pekerjaan dan pemimpin;
e)      Mengurangi stres para pekerja dan meningkatkan kesejahteraan.
Implementasi model kepemimpinan transformasional dalam organisasi atau instansi pendidikan perlu memperhatikan beberapa hal seperti berikut:
a)      Mengacu pada nilai-nilai agama yang ada dalam organsasi atau instansi bahkan suatu negara;
b)      Disesuaikan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam sistem organisasi atau instansi tersebut;
c)      Menggali budaya yang ada dalam organisasi tersebut;
d)     Karena pendidikan merupakan suatu sub sistem, maka harus memperhatikan sistem yang lebih besar yang ada di atasnya seperti sistem negara.
Pemimpin menstarnsformasikan perhatian kebutuhan bawahan
Pemimpin memperluas kebutuhan bawahan
 





Pemimpin mengangkat nuansa kebutuhan bawahan ke tingkatan yang lebih tinggi pada hirarki motivasi
Pemimpin mempetinggi nilai kebenaran bawahan
Pemimpin membangun rasa percaya diri bawahan
Pemimpin mempertinggi probabilitas keberhasian yang subjektif
 










                                                Transformasional
                                                                     Organisasi

Kondisi sekarang dari upaya yang dharapkan bawahan
Makin meningkatnya motivasi bawahan untuk mencapai hasil dengan uapaya tambahan
Bawahan menghasilkan kinerja sebagaimana yang diharapkan
Bawahan mempersembahkan kinerja melebihi apa yang diharapkan
 









Gambar B.1
Sumber: Bass & Avolio (dalam Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, 2009: 152)

C.      Perbedaan Konstruksi Perilaku Kepemimpinan Transformasional Dengan Kepemimpinan Transaksional
Kepemimpinan transaksional dan transformasional memiliki perbedaan esensial dalam konstruksi perilaku kepemimpinan tetapi sifatnya saling melengkapi dan tidak saling meniadakan. Seberapa besar kombinasinya tergantung dari situasi masing-masing.
Menurut pemikiran Bass (dalam Innurma, 2013), kepala sekolah transaksional bekerja di dalam budaya organisasi sekolah seperti yang ada, sedangkan kepala sekolah transformasional mengubah budaya organisasi sekolah. Perbedaan esensial antara pemimpin transaksional dan transformasional berikut ini:
1.        Kepemimpinan Transaksional
a.       Pemimpin menyadari hubungan antara usaha dan imbalan.
b.      Kepemimpinan adalah responsif dan orientasi dasarnya adalah berurusan dengan masalah sekarang.
c.       Pemimpin mengandalkan bentuk-bentuk standar bujukan, hadiah, hukuman dan sanksi untuk mengontrol pengikut.
d.      Pemimpin memotivasi pengikutnya dengan menetapkan tujuan dan menjanjikan imbalan bagi kinerja yang dikehendaki.
e.       Kepemimpinan tergantung pada kekuatan pemimpin memperkuat bawahan untuk berhasil tawar-menawar.
2.        Kepemimpinan Transformasional
a.       Pemimpin membangkitkan emosi pengikut dan memotivasi mereka bertindak di luar kerangka dari apa yang digambarkan sebagai hubungan pertukaran.
b.      Kepemimpinan adalah bentuk proaktif dan harapan-harapan baru pengikut.
c.       Pemimpin dapat dibedakan oleh kapasitas mereka mengilhami dan memberikan pertimbangan individual (bentuk perhatian, dukungan, dan pengembangan bagi pengikut), stimulasi intelektual (upaya pemimpin untuk meningkatkan kesadaran terhadap permasalahan organisasional dengan sudut pandang yang baru) dan pengaruh ideal (membangkitkan emosi dan identifikasi yang kuat terhadap visi organisasi) untuk pengikut.
d.      Pemimpin menciptakan kesempatan belajar bagi pengikut mereka dan merangsang pengikutnya untuk memecahkan masalah.
e.       Pemimpin memiliki visi yang baik, retoris dan keterampilan manajemen untuk mengembangkan ikatan emosional yang kuat dengan pengikutnya.
f.       Pemimpin memotivasi pengikutnya bekerja untuk tujuan yang melampaui kepentingan pribadi.

Tabel C.1  Peredaan Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional
Pengemuka
Transformasional
Transaksional
Bass dan Avilio, 1997
1.      Atribut-atribut pengaruh ideal
2.      Perilaku pengaruh ideal
3.      Motivasi inspirasional
4.      Stimulasi intelektual
5.      Individualisasi konsiderasi
1.      Kontingensi ganjaran pengecualian aktif
2.      Manajemen dengan pengecualian pasif

Bass, 1985
1.      Kemampuan memotivasi lebih tinggi
2.      Kinerja lebih baik
1.      Kemampuan memotivasi moderat
2.      Kinerja moderat











Senja 2012

"kamu suka syair kawan?
kamu suka tulisan-tulisan bermajas?
aku pernah menuliskannya
Entah untukmu, atau hanya sekedar obatku
itu tertulis begitu saja
layaknya kali ini
iya kali ini." by Sofi Handayani

Tulisan itu mengingatkankanku akan senja
dimana aku dan dia menorehkan tinta di sudut bangunan tua, kecil, coklat yang kini hampir rubuh dan tak menarik lagi
dimana aku belum dalam mengenalmu
dimana aku belum berhasil mendekatimu
dimana aku termasuk mahasiswi yang enggan pulang cepat
dimana aku... masih terlalu mudah terpedaya
hei.. dengarlah!!!
kini ku terlupa akan tradisi senja kala itu
sedikit waktu bahkan tak ku beri kesempatan diri ini untuk duduk disana
kini tempat dudukku lebih bagus, lebih menarik mungkin, bahkan lebih aman
tapi siapa sangka itu salah satu penyebab bosan
haha lucu
harusnya aku lebih bersyukur bukan? karena semuanya terlihat begitu indah, sempurna.
Kawan...
Ternyata keindahan kasat mata bukanlah satu-satunya kebahagiaan bagi jiwa
bukan karena ku tak berkawan dengan yang ada
Tapi aku ingin berjalan lebih lama bersama senja, mempesona.
Nomong-ngomong, Waktu kita tak lagi lama
bagaimana dengan rasamu untuknya? 

Sabtu, 14 Desember 2013

proposal pendirian lembaga Pendidikan



PROPOSAL PENDIRIAN TK AL-FATTAH

A.      Latar Belakang
Anak yang berbakti kepada orang tua dan memiliki kemampuan baik agama maupun intelektual adalah harapan setiap orang tua. Untuk mendapatkan yang demikian tidaklah mudah, akan tetapi harus diusahakan. Harapan untuk mendapatkan anak yang memiliki sifat ideal ini hampir-hampir sulit diraih oleh para orang tua. Hal ini dikarenakan terdapat banyak hambatan, baik dari dalam maupun dari luar.
Hambatan yang berasal dari luar di antaranya adalah lingkungan yang tidak kondusif. Sebegitu ketatnya orang tua mengontrol anak apabila dia tidak memperhatikan lingkungannya maka tidak akan berarti apa-apa. Hambatan lain adalah biaya pendidikan secara umum yang kurang terjangkau oleh kalangan menengah ke bawah. Tidak dipungkiri bahwa untuk mendapatkan kualitas yang baik tentu memerlukan biaya yang besar. Hanya saja jika semakin lama biaya pendidikan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat tentu akan menimbulkan hal yang tidak baik dan akan terbukti kebenaran perkataan masyarakat “Orang miskin dilarang sekolah”.
Oleh sebab itu perlu adanya pemikiran dan niat yang lurus untuk menyelesaikan masalah ini. Untuk masalah yang pertama yaitu situasi lingkungan yang banyak merusak maka di antara yang patut diperhatikan adalah membekali anak dengan tameng yang kuat. Yang dimaksud adalah aqidah dan akhlak mulia. Harapannya adalah dengan sedini mungkin anak dibekali dengan hal ini maka mereka masih dalam kondisi fitrah yang murni sehingga dalam menghadapi kerusakan-kerusakan lingkungan mereka sudah memiliki filter yang bisa melindunginya. 
Hal yang tidak boleh diabaikan dalam pendidikan usia pra sekolah adalah sistem pendidikan yang dipakai. Sistem pendidikan yang selama ini dipakai - kalau tidak boleh dikatakan semuanya – sebagian besar hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan intelegensinya. Hal inilah yang patut untuk disadari, bahwa semata kecerdasan dan kemampuan intelegensia tidak akan membawa kemaslahatan yang besar.
Hal yang tidak boleh diabaikan dalam pendidikan usia pra sekolah adalah sistem pendidikan yang dipakai. Sistem pendidikan yang selama ini sebagian besar hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan intelegensinya. Maka sistem pendidikan yang benar adalah penggabungan antara kemampuan intelejensi dan kekuatan keyakinan yang tertanam dalam diri peserta didik serta diaplikasikan dalam keseharian mereka. Inilah yang disebut sebagai orientasi membentuk generasi cerdas yang beraqidah shahihah dan berakhlaq karimah.
Karena beberapa alasan di atas itulah TK Al-Fattah didirikan, dan perlu disadari bahwa pendirian TK ini tidak akan bisa jika tidak didukung oleh segenap lapisan masyarakat yang peduli dengan pendidikan putra-putri dan demi masa depan Islam yang lebih cemerlang. Di antara yang patut untuk diperhatikan adalah bahwasanya motif dari pendirian TK ini adalah menyediakan pendidikan dasar yang berkualitas untuk putra-putri kaum muslimin dengan biaya yang terjangkau kalangan menengah ke bawah. Demi keberlangsungan TK Al-Fattah ini maka visi yang diusung yakni ”mewujudkan generasi yang berlandaskan IMTAQ, cerdas, cakap, bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”. Maka adapun beberapa misi untuk mewujudkannya yaitu:’
1.        Membangun komunitas sekolah bernuasa islami dengan cara memasukkan nilai-nilai agama Islam kedalam pembelajaran dan kegiatan sehari-hari
2.        memiliki SDM berkualitas tinggi yang menguasai ilmu agama maupun ilmu umum
3.        Menerapkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan Menyenangkan.
            Adapun muatan kurikulum yang rencananya akan dilaksanakan pada TK Al-Fattah yaitu terdiri dari: Bidang pengembangan Pembiasaan dan empat bidang kemampuan dasar, dengan rincian sebagai berikut:
1. Bidang Pengembangan Pembiasaan.
a). Moral dan nilai-nilai agama. Dari aspek perkembangan moral dan nilai-nilai-nilai agama diharapkan akan meningkatkan ketaqwaan anak terhadap Tuhan yang Maha Esa dan membina sikap anak dalam rangka meletakkan dasar agar anak menjadi warga negara yang baik.
b). Sosial, Emosional dan Kemandirian. Dimaksudkan untuk membina anak agar dapat mengendalikan emosinya secara wajar dan dapat berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa dengan baik serta dapat menolong dirinya sendiri dalam rangka kecakapan hidup.
2. Bidang  Pengembangan Kemampuan Dasar, meliputi:
a). Kemampuan Berbahasa. Pengembangan ini bertujuan agar anak mampu mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang sederhana secara tepat, mampu berkomunikasi secara efektif dan membangkitkan minat untuk dapat berbahasa Indonesia.
b).  Kemampuan Kognitif. Pengembangan ini bertujuan mengembangkan kemampuan berfikir anak untuk dapat Mengolah perolehan belajar, dapat menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, membantu anak untuk mengembangkankemampuan logika matematikanya dan pengetahuan akan ruang dan waktu, serta mempunyai kemampuan untuk memilah-milah, mengelompokkan serta mempersiapkan pengembangan kemampuan berpikir teliti.
c). Kemampuan Fisik/ Motorik. Pengembangan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melatih gerakan kasar dan koordinasi, serta meningkatkan ketrampilan tubuh cara hidup sehat sehingga dapat menunjang pertumbuhan jasmani yang kuat, sehat dan terampil.
d). Kemampuan Seni. Pengembangan ini bertujuan agar anak dapat dan mampu menciptakan sesuatu berdasarkan hasil imajinasinya, mengembangkan kepekaan dan dapat menghargai hasil karya seni yang kreatif.

B.       Dasar Hukum
Beberapa dasar hukum yang melandasi pendirian TK Al-Fattah yakni sebagai berikut:
1.        Undang-Undang Dasar Tahun 1945
2.        Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003
3.        Peraturan Pemerintah  RI No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
4.        Peraturan Pemerintah RI No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan
5.        Peraturan Pemerintah RI No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
6.        Peraturan Pemerintah RI No. 60 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah RI No. 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
7.        Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
8.        Permendiknas No 58 tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini.

C.      Tujuan
Dalam mendirikan TK Al-Fattah ini maka tujuan yang ingin dicapai bagi anak-anak yaitu:
1.        Memberikan dasar-dasar kemampuan baca tulis serta hafalan Al-Qur’an (khususnya Juz ‘Amma)
2.        Berusaha membentuk kepribadian yang berlandaskan kepada keyakinan yang benar dan perilaku yang mulia
3.        Meningkatkan kreativitas anak dengan memberikan ketrampilan-ketrampilan dasar yang perlu dimiliki anak-anak
4.        Melatih anak untuk memiliki jiwa kepemimpinan.
D.      Sasaran
Dalam rangka mencapai tujuan TK Al-Fattah maka dibutuhkan pula sasaran peserta didik yang akan diharapkan memasuki TK ini. Terutama menunjang terlaksananya proses belajar mengajar dengan efektif dan efisien. Adapun beberapa sasaran yng diharapkan antara lain: 
1.        Anak usia dini ( 4 sd. 6 tahun)
2.        Anak-anak yang berdomisili di desa Bukit Sari yang terdiri dari lima Dusun
3.        Anak-anak yang berdomisili di desa tetangga yaitu Desa Sarimulya dan Girimulya
4.        Anak-anak yang berada disekitar TK khususnya yang kurang mampu (kalangan menengah kebawah).

E.       Hasil yang diharapkan
            Dari beberapa hal yang telah dijelaskan di atas maka tak lepas dengan hasil daripada lulusan yang diharapkan yaitu menjadikan generasi cerdas, beraqidah dan berakhlak mulia. Yang dimaksud cerdas adalah kemampuan mereka membaca dan menulis serta menghafal, beraqidah adalah mereka memiliki keyakinan yang benar tentang agama Islam dan berakhlak mulia adalah mereka menggunakan kecerdasan itu dalam keseharian mereka dengan perilaku yang mulia. Generasi inilah yang berusaha untuk sebanyak mungkin dicetak. Karena merekalah generasi yang akan memakmurkan bumi ini dan sebagai generasi penerus sesuai dengan perintah dari Allah SWT.

F.       Mekanisme pelaksanaan
            Dalam pelaksanaan pendirian TK Al-Fattah adapun mekanismenya yaitu sebagai berikut:
Kegiatan
Tahun 2014
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
Pembelian Tanah dan Bangunan
Sudah tersedia (milik pribadi)

Pengerjaan
1.    Sewa tukang
2.    Pembangunan dan renovasi untuk ruang kelas bimbingan
3.    Pengecatan seluruh ruangan


x


x


x


x


x







x




x







x
















Bersih-bersih








x















Pembelian peralatan & perlengkapan









x














Penataan (keseluruhan komponen dari isi bangunan dan arena bermain)










x













Peresmian











x












Perekrutan tenaga pendidik
1.      Perekrutan
2.      Seleksi administratif
3.      Psikotes
4.      wawancara














x



x



x







x






x









Promosi sekolah

















x
x
x
x
x
x

PPDB























x

1.        Perencanaan tanah. Tanah adalah milik pribadi yang memang disediakan untuk pendirian TK. Yaitu seluas 20x30 m2.  Pengaturan lokasi TK didirikan pada tanah yang ada di Jalan Nangka Desa Bukit Sari, Jambi. Bangunan yang diperlukan berjumlah 3 masing-masing 3x5 m2 dan satu toilet. Dua gedung untuk kelas A dan B (kelas A usia 4-5 tahun; kelas B usia 5-6 tahun), satu gedung berikutnya untuk ruang kantor dan guru. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan antara lain bangku panjang, meja, kursi, papan tulis dan perlengkapan kantor.
2.        Pengerjaan. Pendirian bangunan dilakukan oleh 10 orang pekerja/tukang. Mulai dari awal pengerjaan sampai pengecatan. Lama pengerjaan bekisar 5-6 minggu dengan hitungan per hari 18 jam. Yang diawasi oleh pendiri TK itu sendiri. Sehingga pengerjaan dapat dilakukan dengan cepat dan selesai pada waktu yang ditargetkan.
3.        Bersih-bersih. Pekerjaan ini masih dilakukan oleh tukang. Sehingga kira-kira hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk membereskan barang-barang yang sudah tidak berguna. Sekaligus menyiapkan halaman untuk arena bermain.
4.        Pembelian peralatan dan perlengkapan sudah dilakukan jauh-jauh hari pada saat pembangunan berlangsung. Yaitu dengan cara memesan terlebih dahulu, dibayar dengan cicilan sehingga pada saat selesai dilakukan pembangunan, peralatan dan perlengkapan siap diantar dan ditata. Untuk rincian barang apa saja yang dibeli, sudah tercantum pada rincian dana pada pembahasan selanjutnya.
5.        Penataan. Untuk pekerjaan ini dilakukan sendiri oleh pihak pendiri TK Al-Fattah. Yaitu dari pihak keluarga dan beberapa guru/tim yang sudah terbentuk sebelumnya. Karena barang-barang yang akan ditata tidak terlalu banyak, maka waktu satu minggu sudah cukup untuk agenda ini.
6.        Peresmian. Dilakukan dengan cara mengundang beberapa pejabat penting dan masyarakat umum yaitu Kepala Dinas Kabupaten, Kepala Camat, Kepala Desa, guru-guru TK sekitar, beberapa mahasiswa PGPAUD, dan warga sekitar. Dengan serangkaian acara termasuk hiburan yang sudah dipersiapkan serta peresmian dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan.
7.        Perekrutan tenaga Pendidik. Penerimaan tenaga pendidik dan tenaga administrasi baru. Untuk proses kegiatan belajar mengajar dan operasional TK, pendidik diambil dari beberapa lulusan PGPAUD setempat yang sebelumnya sudah diminta untuk bekerjasama dan untuk pendidik selain itu dilakukan perekrutan dengan persyaratan tertentu guna mendapatkan pendidik yang bermutu dan berkualitas. Mekanisme penerimaan pendidik dan tenaga administrasi baru yakni mulai dari perekrutan, seleksi administratif, psikotes dan wawancara. Setelah pendidik diterima maka dilakukan pembagian tugas mulai diberdayakan dengan cara pemberian tugas mengajar serta untuk peningkatan mutu dan kualitas dilakukan pengembangan dan pelatihan potensi secara berkesinambungan.
8.        Promosi sekolah. Untuk mendapatkan siswa, TK Al-Fattah akan mengadakan sosialisasi secara luas dan besar-besaran yaitu lewat media cetak maupun elektronik. Mulai dari pemasangan banner, pamflet, penyebaran brosur kepada masyarakat (khususnya orang tua) dan tempat umum. Untuk media cetak yaitu disebarluaskan lewat social media, dan radio. Penerimaan siswa yang dibutuhkan dalam tahun pertama minimal mencapai 15 anak. dengan acuan setiap bulan bertambah minimal 2 orang. Pendaftaran siswa dapat dilakukan melalui datang langsung ke lokasi TK dengan persyaratan yang sudah ditentukan.
9.        Penerimaan Peserta didik baru. Dalam hal penerimaan peserta didik baru, calon peserta didik yang berencana mengikuti pendidikan di TK Al-Fattah merupakan generasi yang nantinya dapat menjadi bibit unggul saat memasuki usia sekolah. Calon peserta didik harus memenuhi persyaratan administratif, lalu dilakukan seleksi administratif. Untuk peserta didik sendiri diwajibkan mengikuti kegiatan non-test yaitu dalam rangka melihat seberapa jauh kemampuan si anak sebelum mengenyam pendidikan di TK sehingga menjadi bahan pengembangan peserta didik kedepannya.


G.      Rincian Dana
Dalam rangka operasional TK berawal dari modal ketua lembaga yaitu Rp 85.000.000,- yang dialokasikan untuk pembangunan gedung sekolah. Selanjutnya kondisi keuangan TK tergantung pada pembayaran uang bulanan peserta didik  yang jika diperhitungkan cukup stabil selama kegiatan operasional berlangsung. Pemberian bantuan dana untuk BOP (Bantuan Operasional Pendidikan) baik insidental maupun rutin, yang nantinya akan dialokasikan kepada anak-anak yang kurang mampu.
a). Persiapan Sarana & Prasarana Tk Al-Fattah Tahun Pertama (2014)
1.      Meja, rak sepatu, kursi                                    Rp.   10.000.000,-
2.      Peralatan kantor                                              Rp.     5.000.000,-
3.      Pembelian papan tulis                                       Rp.       200.000,-       
4.      Pembelian alat dan tempat bermain                   Rp.    2.000.000,-
5.      Form administrasi                                             Rp.       200.000,-
6.      Promosi                                                           Rp.    2.000.000,-
7.      BOP (Bantuan Operasional Pendidikan)           Rp.    6.516.000,-
Jumlah                                                               Rp  25.916.000,-
Biaya Tak Terduga 10%                                    Rp.    2.591.600,-
Total Biaya                                                         Rp. 28. 507.600,-
b). Anggaran Biaya Untuk Tahun Kedua (2015)
BOP (Bantuan Operasional Pendidikan) 1 tahun          Rp   6.516.000,-
Jumlah                                                                         Rp  6.516.000,-
Biaya Tak Terduga 10%                                               Rp   1.651.600,-
Total Biaya                                                                   Rp   8.167.600,-
c). Anggaran Biaya Untuk Tahun Ketiga (2016)
BOP (Bantuan Operasional Pendidikan) 1 tahun          Rp    6.516.000,-
Jumlah                                                                         Rp    6.516.000,-
Biaya Tak Terduga 10%                                              Rp    1.651.600,-
Total Biaya                                                                 Rp.   8.167.600,-
Total Biaya untuk Operasional 3 Tahun                        Rp. 44.842.800,-
H.      Penutup
Demikian proposal pendirian TK Al-Fattah ini disampaikan. Diharapkan agar program dan kegiatan yang direncanakan dapat terwujud dan dapat memberikan sumbangsihnya bagi kemajuan bangsa. Atas segala bantuan dan kerjasamanya kami mengucapkan terimakasih, semoga Allah membalasnya dengan balasan yang lebih baik dan menjadikan pemberat bagi timbangan amal kebaikan pada hari akhir. Mudah-mudahan segala amal usaha yang kita lakukan mendapat ridha dari Allah dan petunjukNya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

                                                                                        Malang, 8 Desember 2013
Ketua,                                                                              Sekretaris,

Wahyu Trianto, S.E                                           Rita Aprilianti Rukmana, S.Pd