Senin, 08 Juli 2013

Cahaya



Cahaya
Kecup keningku agar aku bersinar
Kisahkan aku tentang bumiku yang pikun dan renta
Tetaplah menuntun orang-orang yang mencintai kedamaian dan yakin usaha akan sampai
Cahaya yang menerangkan, membangkitkan dan menguatkan
Hingga bintang iri melihatmu
Mengiringi langkah pun “mencerahkan”
Biarkan kegelapan dikunyah, dimamah tanpa tanya
Oleh manusia yang pura-pura lupa kemanusiaannya

#kolaborasi with “cale-san”

Timur



Timur…
Gurat ramahmu indah mempesona
Bak lukisan si kakek tua
Engkau menghadirkan cahaya
Menerangi dunia dan jiwa para pecinta
Menyapa mereka yang setia menunggu sejak gulita
Menggetarkan asa hingga senja
Kehangatannya mengecup dahi semesta

*kolaborasi with “cale-san”



Gulungan Hitam


Gelap, tapi ramai. Bercerita tapi bersembunyi. Belum juga aku kembali ke bilik kayu. Suara disana,suara disini. Menggerayangi telingaku. Datanglah aku bercengkrama dengan suara itu.
Cling…
Tiba-tiba cahaya terang datang menyilaukan mata
Menggantikan liin-lilin putih yang terlihat suram
Silaunya mematuhi kemanapun daku membawanya
Pintu bilik masih merenggang
Tak berfikir untuk menutupnya
Dengan segala isi yang ada didalamnya
Hati pun masih terjaga dengan prasangka baik
Kulangkahkan kaki dengan nada seirama
Aku terperanjat mendapati gulungan kabel yang selama ini menjadi teman setia
Lenyap. tiada berbekas
Akankah dimakan oleh fatamorgana
Jantungku berdetak keras mataku berkaca-kaca
Oooopps… apa yang sebenarnya terjadi
Pertanyaan itu terlontar dari dinding hati
Tanpa dapatku menjawabnya
Fikiranku masih bergelayut dengan cahaya yang seakan padam
Kususuri lorong malam
Mencoba menghilangkan prasangka buruk yang sedang bersemayam di benakku
Yaach walaupun hanya beberapa menit masalah itu tergantikan dengan aroma harum yang membuat perutku keroncongan
Kembali aku pulang dengan hati sedikit dendam
Aku percepat langkah
Berharap gulungan kabel itu sudah kembali di tempat indahnya
Situasi semakin kritis
Sekritis hati ku saat itu, memang hanya ini jalan keluar
Tanpa ragu,kutanyai mereka
tapihasilnya pun juga mengejutkan
tak ada satu pun manusia yang menyodorkan jawaban indah ditelinga
semua terasa hambar
oh gulungan hitam
siapa yang membawamu menjauh dariku
siapa yang memisahkan kita secepat ini
aku sadar sesadar-sadarnya
kehilangan
komputer ini tak lagi engkau lengkapi
baterai nyapun sudah kosong, mati
dan kau taklagi ada untuk menyelamatkannya
hari itu aku bukan lagi orang merdeka
mulai rutin aku meminjam charger. -_- 


 *hilang

Untuk pertama kalinya kehilangan sampai sesesal ini...


Raper Dadakan


Pare Cekidot….
Hmmm program dua minggu di ….. institute udah selesai. Saatnya berkeliling mencari course di tempat lain yang kira-kira mau nerima aku nih sebagai peserta baru. Haha
Ambil program dua minggu emang gak terasa dan efeknya gak seberapa. Butuh tambahan lagi nih biar afdol. Dan pada suatu hari, ya kira-kira weekend, kulangkahkan kaki, kuambil something beroda dua, kukayuh ia dengan cepat, tak peduli siapa teman siapa lawan (emang di arena balap), kubelokkan ia ke kanan, lurus, ke kanan lagi. Tujuan ku hanya satu, tangga itu. Sesampainya aku di depan tangga itu, suasana cukup riuh dan beberapa pasang mata melihat kearahku (ah aku seperti artis aja), kumantapkan hati untuk menaiki anak tangga satu per satu. Mulailah satu, dua, daan… Ha??? Jumlahnya cuma dua anak tangga (huft mungkin aku berlebihan menyebutnya tangga). 
Oke selanjutnya tujuanku adalah pintu, ya pintu yang cukup lebar untuk badan sebesar aku, kudatangi wanita itu yang usianya beberapa tahun diatasku kira-kira cocok kalau aku panggil dia “mbak”. Aku utarakan keinginanku, aku isi biodata pada lembaran putih, aku berikan beberapa lembar kertas berwarna bergambar pahlawan, persegi panjang. Kembali aku pulang dengan wajah cukup riang. 

Aha. Pendaftaranku di salah satu English Course sudah berhasil. Pronunciation. Ya, bidang ini memang pernah saya pelajari semasa duduk di bangku sekolah (baru inget aku kalau pernah sekolah). Dan ingin memantapkannya melalui kursus. Yah semoga lidah ini belum kaku untuk mengalunkan bahasa inggris dengan indah.


Selasa. 25 juni 2013.

Hari pertama kelas akan dimulai.  Kembali aku berkeliling-keliling mencari tempat les ku. Karena gedung kelas dengan kantor pendaftaran berbeda dan jaraknya cukup jauh. Syukurlah ada teman yang mau mengantar dan menunjukan gedung kelas yang aku cari. Dengan santainya aku duduk dan berbincang-bincang dengan peserta baru di luar kelas karena kelas belum dimulai bahkan sempat berkenalan karena itu memang kebiasaanku saat bertemu teman baru. 

Selang beberapa menit kemudian… Apa??? Ini kelas speaking. Oh my God. Aku salah tempat. Aku hubungi nomor yang harus dapat membantuku. Ada suara pria disana. Ya, itu adalah suara pegawai office. Ku coba untuk tidak meninggikan suara. Ujung-ujungnya aku diminta untuk kembali ke office tempat pendaftaran. Nah, kulihat peta lokasi gedung-gedung kelas yang terpecah di penjuru jalan brawijaya sampai ujung dekat persawahan. Oke. Aku berangkat bersama teman yang mau mengantarku. Syukurlah, sesampainya di tempat yang semoga aja ini tidak salah lagi. Kelas belum dimulai. Disuguhi pula “rap music”. Cukuplah untuk menghilangkan lelahnya berkeliling.

Jreng….jreng….jreng….

Sang tentor datang. “Eh yang bener aja. Beneran nih mentornya. Ah gak yakin gua”. Berbagai macam pertanyaan muncul dikepala dan mungkin di kepala teman-teman juga. Ya, gak salah lagi. Ini memang real. Dialah tentor kami selama 2 minggu kedepan. Dengan penampilan yang tidak sewajarnya seorang tentor yang biasa aku lihat. Dia mengenakan kaos oblong lengan pendek, dilapisi kemeja dengan kancing dibiarkan terbuka, dengan bawahan celana jeans agak besar dan melorot, plus rantai sebagai accessories. Wooow Metal Men! Nih tentor kayaknya cukup layak dipanggil Mr. Metal. hiks.

Namun tidak bersepatu. Loh kok ga pake sepatu? Yups. Coz kita belajarnya lesehan alias duduk di lantai.
Beberapa hari di kelas ini. Bermacam-macam materi disuguhkan. Jangan kira hanya tentang pronunciation. Namun buanyak. Diselingi beberapa pengetahuan, mulai dari filsafat, kehidupan, sejarah, cerita seorang raper America, bahkan curhatan kehidupan dia (sang tentor) yang bercita-cita menjadi artis ini yang menurutku cukup memilukan. 

Untuk memperlancar gaya bicara kita, satu jurus sakti mandraguna adalah menulis lirik lagu rap dan menyanyikannya. Bahkan sampai berdiri dengan gaya masing-masing seolah-olah sedang berada pada “big show”. Wonderful!!!

Gara-gara itu jadi sering dengerin musik rap, download2 lagu nya. hah sejak kapan aku seperti ini. mungkin ini juga yang dialami teman2, becaaaaauuuse,, gak cuma aku aja yang minta n ngopy lagu dari mister, dan ini juga yang membuat teman2 jadi raper dadakan. hhhh...

Belajar seperti ini mungkin tak pernah membosankan bahkan ngantuk pun tak akan hinggap. Sang mentor ibarat motivator yang selalu menguji kami, sebenarnya apa tujuan kami. Beberapa jawaban bersuara “sukses, IP tinggi, jadi orang kaya, bahagiain ortu dan bla bla bla”. Ternyata jawaban nya cuma satu “Happiness”. Yah dari jawaban yang kami sodorkan ternyata ujung-ujungnya adalah kebahagiaan. Dan semua ini adalah jalan menuju kebahagiaan. Gak naik kelas, diputusin pacar. Yah tetap cari jalan lain untuk menuju kebahagiaan. 

Dua hari sebelum final test dilaksanakan. Jam pelajaran hanya diisi penuh dengan cerita-cerita. Dengan papan tulis yang bersih tanpa coretan. Sepertinya ini waktunya untuk relax. 

Uyee….
Waktunya final test. Menghafal beberapa kata dan melantunkannya. Alhamdulillah lancar. Endingnya,,,, foto-foto bareng. Aha akhirnya hobiku sedikit tersalurkan disini. Hahaha
Banyak sekali pelajaran yang aku dapat dari kelas ini dan kampong ini, Thanks God. Engkau selalu mempertemukan hamba dengan orang-orang baik hati.

Rabu, 19 Juni 2013

Marriying Class but not Miring Class


First Experience in Pare, Kediri
Kesan pertama di pare itu Woow so hot
But not too quiet
Lama-lama jadi keasyikan dengan suasananya
Ayem, tentrem, tapi jangan sampe ada yang buat kesemsem :D
Kampung ini cukup terkenal dengan sebutan “Kampoeng Inggris”
Disana terdapat banyak lembaga kursus yang menyediakan berbagai banyak program bahasa inggris. Mulai dari basic sampai active, mulai dari ga bisa ngomong sampe cuap-cuap narsis but sure.
Selama saya belajar di salah salah satu lembaga yang ada disana yakni tet tereret tereetttt
Haha kaya parade aja. Udah deh ga usah disebutinbiar penasaran. Iya, aku belajar di . . . . . . Institute. Cukup menyenangkan dan ini adalah lembaga kursus yang cukup terkenal di pare. Ga salah temenku daftarin aku disini.
Baru seminggu ikut kursus udah di ajak foto bareng. Ini foto bukan sembarang foto. Ini bareng-bareng bukan sembarang seneng-seneng. Ada rahasia sakral di balik foto bareng ini. Dan alasannya adalaaah “foto bareng buat sertifikat”. Haha

Tentornya pretty2 and handsome2. Apalagi kalo lagi ngajar tuh, waah seru deh pokoknya. Tetap fighting sampe sore padahal muridnya udah hampir loyo semua. Tapi mereka tetap semangat. Paling enak belajar speaking, yang harus mengucapkan kata-kata yang aneh dengan mimik yang good. Untuk menambah semangat biasanya kita ngucapin vocab nya keras-keras, kedengeran tuh sampe di halaman.
Gak kalah seru juga nih pas belajar grammar. Ngapalin tenses dari SMP dan ngulang lagi pas kursus gak hafal2. (itu sih mungkin aku nya yang lola). Tapi kalo serius, dijamin dah bisa ngajarin temen-temen yang lainnya. Ada kesan juga pas lagi belajar grammar dengan jawaban yang harus sesuai tenses. Di tambah lagi tuh tentor lucu abis ngebuatin contoh. Lets:

“……. Dua minggu yang lalu, teman lamaku datang. Dia baru saja bertemu dengan 5 pacarnya. Padahal dia sudah menikah selama 2 minggu. Dia sudah memiliki 20 anak. Apakah dia sudah makan? Aku selalu memikirkannya?”

Ni soal perlu beberapa menit untuk men-translate. Temen-temen dah pada mlongo tuh mencerna kata-katanya. Gimana caranya 2 minggu bisa punya 20 anak. Yaah dengan santainya dan tanpa dosa nya si tentor nge jawab. “jangan terlalu menghayati kata-katanya, langsung di ubah ke tenses yg tepat aja”. Bukannya pada sibuk nyari jawaban eee tapi malah pada mikirin kata-katanya ituhh.. wah jangan di contoh teman-teman. Haha. Duh kelamaan nih mukadimah nya, langsung aja.
And translate nya adalaaah cekidot….

“……. Two weeks ago, My old friend came. She just met with 5 her boy friends. When else she had been (menikah:……) for 2 weeks. She had had 20 children. Has she eaten? I always think of her.

Nah yang bikin galau jawabannya yag menikah tuh. Ada yang jawab married, marry. Ada juga yang nyebut wedding bahkan marrying. Wah gawat nih kelas. Sejak kapan verb ing di pake disembarang tempat.
Actually, jawabannya sangat simple. Yaitu “getting married”. Oohh this class so freak. :D
Dan sampai sekarang pun sebutan buat kelas grammar intermediate yang satu ini adalah “marriying class”. Huh gara-gara tenses. Nih anak-anak otaknya udah pada miring-miring semua, apalagi diperkuat dengan sebutan itu tadi. Oooh god. Its very bad.

But of all kita dapet kesan yang ga bisa dilupain, entah itu tentornya, suasanyanya ataupun pelajarannya. That’s all, im enjoy to be here.
untuk cerita Pare selanjutnya, to be continued yaah…
#Join us